Blogroll


Komentar Terbaru


Arsip


METODE KLONING UNTUK BIOTEKNOLOGI PETERNAKAN

    Untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan kloning, tentu saja kita akan kembali ke sejarah penemuan kloning. Kata kloning berasal dari bahasa Inggris, clone yang diusulkan pertama kali oleh Hebbert Webber pada tahun 1903 untuk menamai sekelompok mahluk hidup yang lahir tanpa adanya proses seksual. Secara alami kloning hanya terjadi pada tumbuhan melalui metode stek. Proses kloning hewan memang sudah ada pada tahun 1900, tetapi pembuktian tentang hal ini baru terjadi pada tahun 1997 oleh seorang ilmuan dari Skotlandia, yaitu Dr. Ian Willmut. Dimana dalam penelitiannya dia berhasil melakukan proses kloning secara sempurna terhadap seekor domba, hanya dengan mengambil sel kelenjar susu seekor domba finndorset sebagai donor inti sel dan sel telur domba blackface sebagi resepien. Sel telur yang tercipta tanpa bantuan domba jantan tersebut, pada akhirnya dikenal dengan sebutan domba Dolly. yang mana pada perkembangan selanjutnya, kloning bisa dilakukan pada beberapa jenis hewan lain, diantaranya, katak, kucing, dan tikus. Jika dilihat dari bacaan diatas, kloning dapat kita artikan sebagai sebuah proses pembuatan mahluk hidup secara vegetative, yakni tanpa adanya perkawinan atau bantuan dari sel jantan. Jika kita sudah tahu apa itu yang dimaksud dengan kloning, sekarang kita akan lanjutkan tentang bagaimana proses kloning itu dilakukan untuk menciptakan hewan. Sebagai bahan pertimbangan, agar dalam memahami proses kloning ini tidak bingung, kami ambilkan sebuah contoh, yaitu proses kloning sebuah kucing. Untuk kloning kucing, pertama-tama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan sel somatic dari kucing tersebut. Bisa berupa kulit, rambut atau bagian tubuh yang lain dari kucing itu. Kemudian sel yang sudah diambil itu dikembangbiakkan secara khusus, dan saat hampir membentuk bagian tubuh tertentu, nucleus (inti sel) darinya diambil. Selanjutnya, ambil ambil nucleus dari ovum (sel telur) kucing lain, lalu nucleus dari kucing pertama yang sudah dikembangkan tadi, ditanamkan pada ovum kucing kedua. Dari sini, proses inseminasi telah selesai. Terakhir, ovum ditanam ke rahim induk ( kucing pertama) atau bisa dengan kucing lainnya (kucing ketiga) jika kucing induk sekarat atau mati, dan hal itu dilakukan sampai kucing hasil kloning tersebut lahir. Akan tetapi, kucing hasil kloning tersebut tidak mutlak menjadi sama persis dengan kucing induknya. Gen mahluk hidup memang terdapat pada nukleus dan mahluk hidup juga mewarisi mitokondria dari induknya. Namun, perlu diingat bahwa proses kloning menggunakan dua mahluk hidup yang sejenis, karena itu walaupun nucleusnya sama dengan kucing induk, tapi ovumnya dari kucing lain. Sehingga tidak heran jika nantinya hasil kloning dari kucing tersebut berbedah jauh dengan induknya. Disamping itu terdapat kelemahan pada proses kloning hewan, yaitu usia yang pendek pada hewan hasil kloning tersebut. Karena diambil dari gen hewan dengan umur tertentu (missal 3 tahun), maka ketika dia lahir pada saat itu pula usianya sama dengan induknya (3 tahun juga), walaupun dia baru saja dilahirkan. Pada perkembangan selanjutnya, kloning hewan mulai populer di kalangan masyarakat tertentu, bahkan di Amerika ada perusahaan yang bernama C.S.G yang mengkloning kucing dan menjualnya ke masyarakat. Pada bulan November 2004 mereka telah menjual 9 ekor kucing hasil kloning, dan 8 dari kucing tersebut sudah dikontrak oleh calon pembeli. Dan tentu saja pembeli di perusahaan ini adalah orang-orang kaya, karena pada saat pembelian perusahaan ini mengadakan pesta mewah, makan malam dengan para staf yang melakukan kloning dan diberi video yang mencakup tentang proses kloning kucing yang telah dibeli. Oleh karena itu, tidak heran jika masyarakat Indonesia kurang begitu tahu tentang kloning mahluk hidup dan beberapa factor lain juga tentunya, mengingat masyarakat Indonesia yang terkenal dengan agamanya, yang mungkin merasa bahwa kloning adalah hal yang melanggar kode etik dalam pembuatan mahluk hidup. Sehingga banyak dari mereka yang menolak atau enggan untuk mempelajari proses kloning pada hewan dilakukan.

PALAGAN AMBRAWA

    Pada tanggal 20 Oktober 1945 tentara sekutu yang dipimpin oleh Brigjend Bethell mendarat di Semarang yang awalnya datang dengan maksud baik yaitu untuk mengurus tawanan Jepang yang berada di Jawa Tengah. Kedatangan sekutu ini diboncengi NICA. Mulanya kedatangan Sekutu disambut baik oleh bangsa Indonesia, hingga gubernur Jawa Tengah Mr Wongsonegoro sepakat untuk menyediakan bahan makanan dan keperluan lain untuk kelancaran tugas Sekutu. Sekutu juga berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia. Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA telah sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, justru mempersenjatai mereka sehingga menimbulkan amarah pihak Indonesia. Insiden bersenjata timbul di kota Magelang, hingga terjadi pertempuran. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan membuat kekacauan. TKR Resimen Magelang pimpinan M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Namun mereka selamat dari kehancuran berkat campur tangan Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan suasana. Kemudian pasukan Sekutu secara diam-diam meninggalkan Kota Magelang menuju ke benteng Ambarawa. Akibat peristiwa tersebut, Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letnan Kolonel M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka. Tanggal 21 November 1945 Tentara sekutu mengundurkan diri dari Magelang (setelah digempur oleh pasukan TKR) menuju Ambarawa dikejar oleh Resimen Sarbini dengan Batalyon Suryosumpeno, A.Yani dan Kusen. Karena serangan dan penghadangan TKR, sekutu baru bisa masuk Ambarawa tanggal 22 November 1945 jam 21.00. Setelah bantuan Dan Resimen Sarbini, Yon Pranotorekso Samodro, Polisi Istimewa pimpinan Onie Sastroamijoyo dan Barisan Macan dari Yogya tiba, maka pasukan TKR maju sampai desa Jambu. Tentara Sekutu kembali dihadang oleh Batalyon I Suryosumpeno di Ngipik. Pada saat pengunduran, tentara Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Isdiman berusaha membebaskan kedua desa tersebut, pada tanggal 25 November Letnan Kolonel Isdiman gugur, ia gugur menjadi kusuma bangsa. Sejak gugurnya Letkol Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas, Soedirman merasa kehilangan perwira terbaiknya dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Kehadiran Kolonel Sudirman memberikan nafas baru kepada pasukan-pasukan RI. . Dengan terjunnya Kolonel Sudirman di Palagan Ambarawa memberikan nafas baru dalam: koordinasi, konsolidasi, gerakan makin nyata, pengepungan makin kuat, penyusupan makin menghebat, penghadangan makin rapi. Siasat yang diterapkan adalah serangan pendadakan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lain-lain. Tanggal 23 Nopember 1945 ketika matahari mulai terbit, mulailah tembak-menembak dengan pasukan Sekutu yang bertahan di kompleks gereja dan pekuburan Belanda di Jalan Margo Agung. Pasukan Indonesia antara lain dari Yon Imam Adrongi, Yon Soeharto dan Yon Sugeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan-tawanan Jepang dengan diperkuat tanknya, menyusup ke kedudukan Indonesia dari arah belakang, karena itu pasukan Indonesia pindah ke Bedono. Dan sektor Bandungan Letkol M. Sarbini memerintahkan Mayor Suyoto sebagai Dan TKR Temanggung dengan kekuatan 1 Ton + Barisan Rakyat Bandungan sampai Pimpingan Taslim untuk menindas pos sekutu di Lemahabang dengan tujuan: agar sektor Bandungan terhindar dari sergapan pasukan sekutu dan mematahkan jalur logistik sekutu dari Semarang menuju Ambarawa. Tanggal 28 November 1945 Mayor Suyoto beserta 21 orang anggota pasukannya gugur sebagai kusuma bangsa dengan heroik dalam pertempuran di sekitar Lemahabang melawan tank sekutu hanya dengan bersenjata pistol dan bambu runcing. Tanggal 5 Desember 1945 benteng Banyubiru jatuh ke tangan TKR Tanggal 9 Desember 1945 lapangan terbang Kalibanteng (sekarang PUAD A. Yani) jatuh ke tangan TKR hingga bantuan logistik sekutu untuk Ambarawa terputus sama sekali. Pada tanggal 11 Desember 1945, Kolonel Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar. Dalam pertemuan itu tercetus keputusan: pendadakan serentak di tiap sektor, komando penyerangan dipegang Dan Sektor TKR, pasukan/badan perjuangan sebagai barisan belakang, serangan mulai besok pagi jam 04.30 tepat. Pada tanggal 12 Desember 1945 jam 04.30 pagi, serangan mulai dilancarkan. Pertempuran berkobar di Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan raya Semarang-Ambarawa dikuasai oleh kesatuan-kesatuan TKR. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit, Kolonel Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya terputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang. Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan diperingatinya Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.

Pengunjung

    40348

PENGARUH ASING PADA MASA PRA-SEJARAH INDONESIA

Ditulis pada 14 May 2012 Oleh okky-fib11 | Kategori : sejarah

 

Pengaruh Budaya Vietnam bagi budaya bangsa Indonesia pada masyarakat Prasejarah Indonesia Masuknya kebudayaan asing merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Kebudayaan tersebut yaitu Kebudayaan Dongson, Kebudayaan Bacson-Hoabinh, Kebudayaan Sa Huynh, dan Kebudayaan India. Kebudayaan Dongson, Kebudayaan Bacson-Hoabich, Kebudayaan Sa Huynh terdapat di daerah Vietnam bagian Utara dan Selatan.

            Masyarakat Dongson hidup di lembah Sungai Ma, Ca, dan Sungai Merah, sedang masyarakat Sa Huynh hidup di Vietnam bagian Salatan. Ada pada tahun 40.000 SM-500 SM. Kebudayaan tersebut berasal dari zaman Pleistosein akhir. Proses migrasi ketiga kebudayaan tersebut berlangsung antara 2000 SM-300 SM. Menyebabkanmenyebarnya migrasi berbagai jenis kebudayaan Megalithikum (batu besar),Mesolitikum (batu madya),Neolithikum (batu halus), dan kebudayaan Perunggu.Terdapat 2 jalur penyebaran kebudayaan tersebut:

 

1. Jalur barat, dengan peninggalan berupa kapak persegi

2. Jalur Timur, dengan ciri khas peninggalan kebudayaan kapak lonjong. Padazaman perunggu, kapak lonjong ditemukan di Formosa, Filipina, Sulawesi,Maluku, Irian Jaya. 

 

PENGARUH BUDAYA BACSON-HOABINH

 

Diperkirakan berasal dari tahun 10.000 SM-4000 SM, kira-kira tahun7000 SM. Awalnya masyarakat Bacson-Hoabinh hanya menggunkan alat dari gerabah yang sederhana berupa serpihan-serpihan batu tetapi pada tahun 600SM mengalami dalam bentuk batu-batu yang menyerupai kapak yang berfungsisebagai alat pemotong. Bentuknya ada yang lonjong, segi empat, segitiga, danada yang berbentuk berpinggang. Ditemukan pula alat-alat serpih, batu gilingdari berbagai ukuran, alat-alat dari tulang dan sisa-sisa tulang belulang manusia yang dikuburkan dalam posisi terlipat serta ditaburi zat warna merah. Ditemukan dalam penggalian di pegunungan batu kapur di daerah Vietnam bagian utara yaitu di daerah Bacson pegunungan Hoabinh

Istilah Bacson-Hoabinh digunakan sejak tahun 1920-an untuk menunjukkan tempat pembuatan alat-alat batu yang memiliki ciri dipangkaspada satu/ dua sisi permukaannya. Batu kali yang berukuran lebih kurang satukepalan dan seringkali seluruh tepiannya menjadi bagian yang tajam.Ditemukan di seluruh wilayah Asia Tenggara, hingga Myanmar (Burma) di baratdan ke utara hingga propinsi-propinsi Selatan, antara 1800 dan 3000 tahun yang lalu. Di Indonesia, alat-alat dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dapat ditemukandi daerah Sumatera, Jawa (lembah Sungai Bengawan Solo), Nusa Tenggara,Kalimantan, Sulawesi sampai ke Papua (Irian Jaya). Di Sumatera letaknya didaerah Lhokseumawe dan Medan. Penyelidikan tentang persebaran kapak Sumatera dan kapak Pendek membawa kita melihat daerah Tonkin di Indocina dimana ditemukan pusatkebudayaan Prasejarah di pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh yangletaknya saling berdekatan.  Alat-alat yang ditemukan di daerah tersebut menunjukkan kebudayaanMesolitikum. Dimana kapak-kapak tersebut dikerjakan secara kasar. Terdapatpula kapak yang sudah diasah tajam, hal ini menunjukkan kebudayaan ProtoNeolitikum. Diantara kapak tersebut terdapat jenis pebbles yaitu kapak Sumatera dan kapak pendek. Mme Madeline Colani, seorang ahli prasejarah Perancis menyebutkan/memberi nama alat alat tersebut sebagai kebudayaan Bacson-Hoabinh. penelitian tersebut menunjukkan bahwa Tonkin merupakan pusat kebudayaan Asia Tenggara. Dari daerah tersebut kebudayaan ini sampai ke Indonesia melalui Semenanjung Malaya (Malaysia Barat) dan Thailand. Di Tonkin tinggal 2 jenis bangsa, yaitu

1. Bangsa Papua Melanosoid, merupakan bangsa yang daerah penyebarannyapaling luas, meliputi Hindia Belakang, Indonesia hingga pulau-pulau diSamudera Pasifik. Bangsa ini memiliki kebudayaan Mesolitikum yang belumdi asah (pebbles).

 

2. Bangsa Mongoloid, merupakan bangsa yang memiliki kebudayaan yanglebih tinggi, yaitu proto-neolitikum (sudah diasah).

 

1.        Bangsa Austronesia, merupakan percampuran dari bangsa Melanesoid dan Europaeide. Pada zaman Neolitikum bangsa ini tersebar ke seluruhKepulauan Indonesia.

 

Hasil Kebudayaan Bacson - Hoabinh

 

1.     Kapak Genggam

 Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble atau kapak Sumatera (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu di pulauSumatera.

2.     Kapak Dari Tulang dan Tanduk 

Di sekitar daerah Nganding dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun (Jawa Timur) ditemukankapak genggam dan alat-alat dari tulang dan tanduk. Alat-alat dari tulang tersebut bentuknyaada yang seperti belati dan ujung tombak yang bergerigi pada sisinya. Adapun fungsi darialat-alat tersebut adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah, serta menangkapikan.

3.     Flakes

 Flakes berupa alat alat kecil terbuat dari batu yang disebut dengan flakes atau alat serpih.Flakes selain terbuat dari batu biasa juga ada yang dibuat dari batu-batu indah berwarnaseperti calsedon.

Flakes mempunyai fungsi sebagai alat untuk menguliti hewan buruannya, mengiris daging ataumemotong umbi-umbian. Jadi fungsinya seperti pisau pada masa sekarang. Selain ditemukan di Sangiran flakes ditemukan di daerah-daerah lain seperti Pacitan, Gombong, Parigi, Jampang Kulon, Ngandong (Jawa), Lahat (Sumatera), Batturing (Sumbawa), Cabbenge (Sulawesi),Wangka, Soa, Mangeruda (Flores). Kebudayaan Bacson - Hoabinh yang terdiri dari pebble, kapak pendek serta alatalat daritulang masuk ke Indonesia melalui jalur barat.

 

Peradaban Bacson - Hoa Binh

 

            Hasil Kebudayaan Bacson Hoa Binh ditemukan hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara.Menurut CF Gorman bahwa penemuan alat dari batu banyak ditemukan di Vietnam bagian Utara yaitu di daerah Bacson Pegunungan Hoa Binh. Juga ditemukan alat serpih, batu gilingdari berbagai ukuran, sedangkan di gua Xom Trai ditemukan alat dari batu yang sudahdiasah pada sisi yang tajam. Di Indonesia alat-alat batu dari kebudayaan Bacson Hoabinh banyak ditemukan di Sumatera (Lhokseumawe dan Medan), Jawa Tengah (LembahBengawan Solo), Sulawesi Selatan (Cabbenge), Semenanjung Minahasa, Flores, MalukuUtara dsb.

Pengaruh Budaya Hoa Bihn Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia Budaya Hoa Bihn merupakan diantara budaya besar yang memiliki situs-situs temuan diseluruh daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Budaya Hoabihn ini berkembang di Asia Tenggara dalam kurun waktu antara 18.000 hingga 3.000-an tahun yang lalu. Istilah Hoa Bihn sendiri mulai dipakai sejak tahun 1920-an untuk menyebut pada suatu industri alat batu yang berasal dari jenis batu kerakal dengan ciri khas berupa pangkasan pada satu atau dua sisi permukaannya.Manusia pemilik budaya Hoabihn diperkirakan hidup pada kala Holosen. Pendahulu Hoa Binh awalnya berada di Vietnam bagian Utara, Thailand bagian Selatan dan Malaysia. Pengaruh utama budaya Hoa Bihn terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauan Indonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat terbuat dari batu. Beberapa ciri pokok budaya Hoa Bihn ini antara lain Pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu. Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai. Alat batu ini telah dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu ataudua sisi batu. Hasil penyerpihan menunjukkan adanya keragaman bentuk. Ada yang berbentuk lonjong, segi empat, segi tiga dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang. Pengaruh budaya Hoa Bihn di Kepulauan Indonesia sebagian besar terdapat di daerah Sumatra. Hal ini lebih dikarenakan letaknya yang lebih dekat dengan tempat asal budaya ini. Situs-situs Hoa Bihn di Sumatra secara khusus banyak ditemukan di daerah pedalaman pantai Timur Laut Sumatra, tepatnya sekitar 130 km antara Lhokseumawe dan Medan. Sebagian besar alat batu yang ditemukan adalah alat batu kerakal yang diserpih pada satu sisi dengan bentuk lonjong atau bulat telur. Dibandingkan dengan budaya Hoa Bihn yang sesungguhnya, pembuatan alat batu yang ditemukan di Sumatra ini dibuat dengan teknologi lebih sederhana. Kebanyakan alat-alat batu tersebut ditemukan diantara atau terdapat dalam bukit sampah kerang.

 

PENGARUH KEBUDAYAAN DONGSON

 

Sebagaimana halnya dengan dua kebudayaan yang telah disebbut sebelumnya, wilayah Dongson juga merupakan salah satu wilayah yang terdapat di Indo Cina. Orang-orang Dongson dikenal sebagai petani-petanai yang handal, mereka bertanam padi,berternak babi dan kerbau, selain itu mereka juga dikenal sebagai neleyan dan pelaut yang hebat. Pada masa itu mereka memiliki kemampuan untuk berlyar di laut Cina dan melayari sebagian autan di wilayah selatan. Benda-bendahasil budaya Dongson pada umumnya memiliki ciri-ciri yang khas, yaitu hampir semua benda budaya yang dihasilkan selalu diberi hiasan yang menunjukkan adanya sejumlah pengaruh dan aliran. Hiasan khas budaya Dongson adalah bentuk-bentuk geometris,jalinan, arsiran, segitiga dan spiral.

Di indonesia kebudayaann Dongson sangat berpengaruh terhadap kebudayaan perunggu yang berkembang pada zaman logam. Penemuan alat-alat perunggu ini memperkuat dugaan bahwa migrasi bangsa-bangsa yang masuk ke indonesia berasal dari Yunan,sebuah wilayah yang terletak di wilayah barat daya Cina. Hasil kebudayaan perunggu di indonesia yang memperlihatkan pengaruh kuat dari kebudayaan Dongson adalah nekara. Di indonesia jenis-jenis nekara ini sangat beragam.

Proses migrasi masyarakat pendukung kebudayaan Bacson, Hoa Bihn dan Dongson berlangsung antara tahhun 2000 sampai 300 SM. Karena adanya proses migrasi ini pula hasil budaya masyarakat ikut terbawa menyebar ke daerah-daerah dimana masyarakat pendukung kebudayaan tersebut menemukan wilayah tempat tinggal barunya.

 

Seperti telah disebutkan diatas bahwa hasil budaya utama kebudayaan Dongson adalah nekara. Pada nekara terlihat adanya simbol-simbol yang kuat tentang adanya kepercayaan spiritual, karena nekara sendiri dibuat untuk kepentingan ritual. Nekara di indonesia banyak ditemukan menyebar di berbagai wilayah di Sumatra, Jawa dan Maluku Selatan, tetapi dilihat dari bahan dasarnya diduga bukan nekara yang dibuat di indonesia. Sma halnya dengan nekara yang ditemukan di pulau Sangeang, Di daerah Sumbawa yang disebut nekara makalaman.Pada nekara ini terdapat hiasan orang berseragam yang mirip dengan pakaian orang Cina atau India Utara dan Sulawesi Selatan. Nekara yang ditemukan di wilayah pulau Kei didapati gambar adegan orang-orang yang sedang berburu macan, padahal di wilayah tersebut tidak terdapat kebiasaan berburu macan.

 

Di Indonesia jenis nekara yang di duga aslibuatan Indonesai adalah nekara bulan dari pejeng, Bali. Ada yang khasa dari nekara ini yaiotu di anatara ke empat pegangannya terdapat hiasan berupa topeng manusia. Hiasan ini mungkin melambangkan konsep masyarakat bali tentang jagatraya, yang disebut dengan Nawasanga. Kata nawasanga memiliki arti yang berhubungan dengan sembilan dewa penjaga arah, tetapi mungkin juga dimaksudkan sebagai pelindung.

Dalam proses migrasi ini, ada dua jalur yang di tempuh oleh masyarakat pendukung kebudayaan bacso, Hoabihn dan dongson. Jalur pertama adalah jalaur Barat. Pada jalur ini hasil kebudayaan yang khas di antaranya kebudayaan kapak persegi. Yang kedua adalah jalur timur ciri yangkhas adalaah kebudayaan kapak lonjong. Hasil peninggalan kebudayaan kapak lonjong ini banyak terapat di formosa, Filiphina, sulawesi, maluku dan Papua.

 

PENGARUH KEBUDAYAAN SA HUYNH – KALANAY

 

Sa huynh juga merupakan salah satu daeraha di wilayah Indo Cina, terletak didekat pantai kira-kira 140 km ke arahselatan kota Tourane. Sementara itu, kalanay sebuah nama tempat yang berada di Filiphina. Kebudayaan ini berkembang di Indonesai seiring dengan zaman perundagian, tetapi seberapa jauh pengaruhnya terhadap hasil budaya gerabah di Indonesai sangat sulit ditentukan karena tradisi pembuatan gerabah di Indonesia telah berkembang pada masa bercocok tanam yaitu pada awal zaman neolithikum. Perkembangan tradisi gerabah Sa huynh – kalanay diperkirakan berkisar antara 750 SM- 200 M, dan gerabah-geranah ini di temukan bersama-sama dengan alat batu yang telah di asah halus dan hasil budaya zaman perundagian lainnya. Tradisi gerabah Sa huyn – Kalanay memiliki ciri yang khas yaitu adanya hiasab dengan gulungan tali, pola keranjang atau anyaman. Pengaruh sa huyn- Kalanay tampak pada hasil budaya gerabah yang di temukan di kompleks Buni. Buni adalah nama daerah di wilayah bekasi yang terdiri dari berbagai jenis periuk, cawan, pendupaan dan kendi. Gerabah kompleks Buni sering di temukan bersama-sama dengan tulang manusia dan benda hasil budaya lainnya seperti gelang batu, perhiasan dari emas, manik-manik, dan terakota. Dari temuan-temuan ini di duga gerabaha dari situs ini merupakan benda yang dianggap memiliki kekuatan magis dan dipergunakan sebagai alat upacara atau sebagai benda bekal kubur (ceremonial). Tetapi kemungkinan juga di gunakan sebagai alat kehidupan sehari-hari (utilitarian).

 

2.1  Pengaruh Asing di Indonesia Sesudah Masa Prasejarah

 

 

PENGARUH INDIA DI INDONESIA

 

Hubungan antara India dan Cina sudah terjalin jauh sebelum abad 5 Masehi dan kedua Negara ini pada saat itu adalah sebagai sentral perekonomian di Asia. Akulturasi kebudayaan India merupakan tahapan terakhir dari masa budaya pra sejarah setelah tahun 500 SM. Letak Indonesia yang berada di antara dua Negara tersebut menjadi sering di lalui para pedagang baik dari India ataupun Cina. Awal abad Masehi, jalur perdagangan tidak lagi melewati jalur darat (jalur sutera) tetapi beralih kejalur laut, sehingga secara tidak langsung perdagangan antara Cina dan India melewati selat Malaka.

Pada awalnya para pedagang tersebut hanya singgah di Indonesia tepatnya di daerah Sumatra dalam perjalanan perdagangannya. Tetapi lama-kelamaan para pedagang tersebut berdagang di Indonesia, menikah dengan orang-orang pribumi dan menyebarkan kebudayaan mereka di Indonesia. Ada beberapa teori mengenai proses akulturasi budaya India dan Indonesia yaitu :

1.                        Teori Kolonisasi

Dalam teori ini terdapat beberapa hipotesa atau pendapat yaitu :

a.                                Hipotesa Ksatria

Majumdar menyatakan bahwa ada petualang India setelah sesampainya di Indonesia membangun koloni. Para kolonis ini kemudian mengadakan hubungan dagang dan mendatangkan para seniman dari India untuk membangun candi-candi di Indonesia.

C.C Berg menyatakan bahwa kebudayaan India itu dibawa oleh orang-orang India yang sesampainya di Indonesia mereka menikah dengan puteri-puteri bangsawan/ pemuka masyarakat Indonesia. Setelah menikah, mereka menjadi raja di Indonesia dan menurunkan dinasti-dinasti

J.L Moens menghubungkan berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia dengan runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di India. Sehingga dia menafsirkan bahwa keluarga/ dinasti raja India yang runtuh itu meninggalkan India untuk pergi ke Indonesia dan mendirikan kerajaan di Indonesia.

b.                                Hipotesa Waisya

N.J korm berpendapat bahwa pengaruh India di Indonesia datang dari bangsa India sendiri yaitu dari kaum pedagang. Dimana selain berdagang mereka melakukan pernikahan dengan penduduk pribumi.

c.                                Hipotesa Brahmana

Menurut J.C van Leur, bila dilihat dari upacara-upacara yang dilakukan maupun bahasa yang dipergunakan di lingkungan keratin merupakan kebudayaan khusus para brahmana. Jadi van Leur menyimpulkan bahwa yang membawa pengaruh India itu adalah kaum brahman

2.                        Teori Arus Balik

Menurut F.D.K Bosch, dalam proses akulturasi kebudayaan ini bangsa Indonesia turut berperan aktif. Pada mulanya, orang-orang dari India yang membawa agama Hindu dan Budha yaitu dari golongan intelektual melalui jalan dagang yang lajim dilalui para pelancong dengan menumpang kapal dagamg. Setelah sampai di Indonesia, mereka kemudian diundang untuk memberi suatu sinar kehinduan pada masyarakat Indonesia. Setelah orang Indonesia ini masuk agama Hindu- Budha kemudian mereka sendiri belajar ke India lalu kembali pulang dan aktif menyebarkan agama Hindu-Budha di Indonesia.

Kebudayaan India yang memegang peranan penting dalam perkembangan masyarakat prasejarah menjadi masyarakat sejarah. Masyarakat Indonesia mengalami perubahan-perubahan di berbagai bidang yaitu :

·       Pada awalnya masyarakat Indonesia yang menganut animisme dan dinamisme menjadi beragama Hindu atau Budha setelah masuknya pengaruh India.

·       Dikenalnya sistem pemerintahan kerajaan

·       Dikenalnya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa yang menandai masuknya zaman sejarah bagi masyarakat kepulauan Indonesia

·       Budaya India tersebut meninggalkan pengaruhnya pada kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia terutama pada seni ukir, pahat, dan tulisan

 

Pengaruh Budaya India yang masuk ke Indonesia

1. Budaya       

Pengaruh budaya India di Indonesia sangat besar bahkan begitu mudah diterima di Indonesia hal ini dikarenakan unsur-unsur budaya tersebut telah ada dalam kebudayaan asli bangsa Indonesia, sehingga hal-hal baru yang mereka bawa mudah diserap dan dijadikan pelengkap.

Pengaruh kebudayaan India dalam kebudayaan Indonesia tampak pada:

· Seni Bangunan, yang terdapat dalam bentuk bangunan candi. Di India candi merupakan kuil untuk memuja para dewa dengan bentuk stupa tetapi di Indonesia, candi selain sebagai tempat pemujaan, juga berfungsi sebagai makam raja atau untuk tempat menyimpan abu jenazah sang raja yang telah meninggal. Candi sebagai tanda penghormatan masyarakat kerajaan tersebut terhadap sang raja.

· Seni rupa, dan seni ukir, terlihat pada relief atau seni ukir yang dipahatkan pada bagian dinding candi. Contohnya relief yang dipahatkan pada Candi Borobudur bukan hanya menggambarkan riwayat sang budha tetapi juga terdapat relief yang menggambarkan lingkungan alam Indonesia. Terdapat pula relief yang menggambarkan bentuk perahu bercadik yang menggambarkan kegiatan nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu.

· Seni Hias, unsur-unsur India tampak pada hiasan-hiasan yang ada di Indonesia meskipun dapat dikatakan secara keseluruhan hiasan tersebut merupakan hiasan khas Indonesia. Contohnya  gelang, cincin, dan manik-manik.

· Aksara/tulisan, berdasarkan bukti-bukti tertulis yang terdapat pada prasasti-prasasti(abad 5 M) tampak bahwa bangsa Indonesia telah mengenal huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Huruf Pallawa yang telah di-Indonesiakan dikenal dengan nama huruf Kawi. Sejak prasasti Dinoyo (760 M) maka huruf Kawi ini menjadi huruf yang dipakai di Indonesia dan bahasa Sansekerta tidak dipakai lagi dalam prasasti tetapi yang dipakai bahasa Kawi.Prasasti Dinoyo berhubungan erat dengan Candi Badut yang ada di Malang.

· Kesusastraan, seni sastra berbentuk prosa dan tembang (puisi). Tembang jawa kuno umumnya disebut kakawin. Irama kakawin didasarkan pada irama dari India. Berdasarkan isinya, kesusastraan tersebut terdiri atas kitab keagamaan (tutur/pitutur), kitab hukum, kitab wiracarita (kepahlawanan) serta kitab cerita lainnya yang bertutur mengenai masalah keagamaan atau kesusilaan serta uraian sejarah, seperti Negarakertagama. Bentuk wiracarita ternyata sangat terkenal di Indonesia, terutama kisah Ramayana dan Mahabarata. Kisah India itu kemudian digubah oleh para pujangga Indonesia, seperti Baratayudha yang digubah oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Berkembangnya karya sastra, terutama yang bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana, telah melahirkan seni pertunjukan wayang kulit(wayang purwa). Pertunjukkan wayang banyak mengandung nilai yang bersifat mendidik. Cerita dalam pertunjukkan wayang berasal dari India, tetapi wayangnya sendiri asli Indonesia. Bahkan muncul pula tokoh-tokoh pewayangan yang khas Indonesia seperti tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Tokoh-tokoh ini tidak ditemukan di India.

2. Pemerintahan

Sebelum kedatangan bangsa India, bangsa Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan tetapi masih secara sederhana yaitu semacam pemerintahan di suatu desa atau daerah tertentu dimana rakyat mengangkat seorang pemimpin atau kepala suku. Orang yang dipilih sebagai pemimpin biasanya adalah orang yang senior, arif, berwibawa, dapat membimbing serta memiliki kelebihan tertentu , termasuk dalam bidang ekonomi maupun dalam hal kekuatan gaib atau kesaktian.

Masuknya pengaruh India menyebabkan muncul sistem pemerintahan yang berbentuk kerajaan, yang diperintah oleh seorang raja secara turun-temurun. Peran raja di Indonesia berbeda dengan di India dimana raja memerintah dengan kekuasaan mutlak untuk menentukan segalanya. Di Indonesia, raja memerintah atas nama desa-desa dan daerah-daerah. Raja bertindak ke luar sebagai wakil rakyat yang mendapat wewenang penuh. Sedangkan ke dalam, raja sebagai lambang nenek moyang yang didewakan.

3. Sosial

Kehidupan sosial masyarakat di Indonesia mengikuti perkembangan zaman yang ada. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia menerima dengan terbuka unsur-unsur yang datang dari luar, tetapi perkembangannya selalu disesuaikan dengan tradisi bangsa Indonesia sendiri. Masuknya pengaruh India di Indonesia menyebabkan mulai adanya penerapan hukuman terhadap para pelanggar peraturan atau undang-undang juga diberlakukan. Hukum dan Peraturan menunjukkan bahwa suatu masyarakat itu sudah teratur dan rapi. Kehidupan sosial masyarakat Indonesia juga tampak pada sistem gotong-royong. Dalam perkembangannya kehidupan sosial masyarakat Indonesia distratifikasikan berdasarkan kasta dan kedudukan dalam masyarakat (mulai mengenal sistem kasta)

4. Kepercayaan

Sebelum pengaruh India berkembang di Indonesia, masyarakat telah mengenal dan memiliki kepercayaan, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang dan benda-benda besar (animisme dan dinamisme).

Ketika agama dan kebudayaan Hindu-Budha tumbuh dan berkembang, bangsa Indonesia mulai menganut agama Hindu-Budha meskipun unsur kepercayaan asli tetap hidup sehingga kepercayaan agama Hindu-Budha bercampur dengan unsur penyembahan roh nenek moyang. Hal ini tampak pada fungsi candi di Indonesi


 

PENGARUH ISLAM DI INDONESIA

 

Awal Masuknya Islam di Indonesia

Sejarah mencatat bahwa sejak awal Masehi, pedagang-pedagang dari India dan Cina sudah memiliki hubungan dagang dengan penduduk Indonesia. Masuknya Islam ke Indonesia  menimbulkan berbagai teori. Meski terdapat beberapa pendapat mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia, banyak ahli sejarah cenderung percaya bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 berdasarkan Berita Cina zaman Dinasti Tang. Berita itu mencatat bahwa pada abad ke-7, terdapat permukiman pedagang muslim dari Arab di Desa Baros, daerah pantai barat Sumatra Utara.

Abad ke-13 Masehi lebih menunjuk pada perkembangan Islam bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Pendapat ini berdasarkan catatan perjalanan Marco Polo yang menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 dan berjumpa dengan orang-orang yang telah menganut agama Islam.

a.  Peran Kaum Pedagang

Seperti halnya penyebaran agama Hindu-Buddha, kaum pedagang memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam, baik pedagang dari luar Indonesia maupun para pedagang Indonesia. Para pedagang itu datang dan berdagang di pusat-pusat perdagangan di daerah pesisir. Malaka merupakan pusat transit para pedagang. Di samping itu, bandar-bandar di sekitar Malaka seperti Perlak dan Samudra Pasai juga didatangi para pedagang. Mereka tinggal di tempat-tempat tersebut dalam waktu yang lama, untuk menunggu datangnya angin musim. Pada saat menunggu inilah, terjadi pembauran antarpedagang dari berbagai bangsa serta antara pedagang dan penduduk setempat. Terjadilah kegiatan saling memperkenalkan adat-istiadat, budaya bahkan agama. Bukan hanya melakukan perdagangan, bahkan juga terjadi asimilasi melalui perkawinan.

Di antara para pedagang tersebut, terdapat pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang umumnya beragama Islam. Mereka mengenalkan agama dan budaya Islam kepada para pedagang lain maupun kepada penduduk setempat. Maka, mulailah ada penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam. Lama-kelamaan penganut agama Islam makin banyak. Bahkan kemudian berkembang perkampungan para pedagang Islam di daerah pesisir. Penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian menyebarkan Islam kepada sesama pedagang, juga kepada sanak familinya. Akhirnya, Islam mulai berkembang di masyarakat Indonesia. Di samping itu para pedagang dan pelayar tersebut juga ada yang menikah dengan penduduk setempat sehingga lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam. Hal ini berlangsung terus selama bertahun-tahun sehingga akhirnya muncul sebuah komunitas Islam, yang setelah kuat akhirnya membentuk sebuah pemerintahaan Islam. Dari situlah lahir kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.

b. Peranan Bandar-Bandar di Indonesia

Bandar merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan kapal-kapal dagang. Bandar juga merupakan pusat perdagangan, bahkan juga digunakan sebagai tempat tinggal para pengusaha perkapalan. Sebagai negara kepulauan yang terletak pada jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki banyak bandar. Bandar-bandar ini memiliki peranan dan arti yang penting dalam proses masuknya Islam ke Indonesia.

Di bandar-bandar inilah para pedagang beragama Islam memperkenalkan Islam kepada para pedagang lain ataupun kepada penduduk setempat. Dengan demikian, bandar menjadi pintu masuk dan pusat penyebaran agama Islam ke Indonesia. Kalau kita lihat letak geografis kota-kota pusat kerajaan yang bercorak Islam pada umunya terletak di pesisir-pesisir dan muara sungai. Dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut umumnya tumbuh menjadi kota bahkan ada yang menjadi kerajaan, seperti Perlak, Samudra Pasai, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore. Banyak pemimpin bandar yang memeluk agama Islam. Akibatnya, rakyatnya pun kemudian banyak memeluk agama Islam. Peranan bandar-bandar sebagai pusat perdagangan dapat kita lihat jejaknya. Para pedagang di dalam kota mempunyai perkampungan sendiri-sendiri yang penempatannya ditentukan atas persetujuan dari penguasa kota tersebut, misalnya di Aceh, terdapat perkampungan orang Portugis, Benggalu Cina, Gujarat, Arab, dan Pegu. Begitu juga di Banten dan kota-kota pasar kerajaan lainnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam memiliki ciri-ciri yang hampir sama antara lain letaknya di pesisir, ada pasar, ada masjid, ada perkampungan, dan ada tempat para penguasa (sultan).

c. Peranan Para Wali dan Ulama

Salah satu cara penyebaran agama Islam ialah dengan cara mendakwah. Di samping sebagai pedagang, para pedagang Islam juga berperan sebagai mubaligh. Ada juga para mubaligh yang datang bersama pedagang dengan misi agamanya. Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat objek dakwah, dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.

Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan. Mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut.Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Derajad (Syarifudin), Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Kudus (Jafar Sodiq), Sunan Muria (Raden Umar Said), Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Awal Persebaran Agama Islam di Indonesia

Jika diurutkan dari barat ke timur, Islam pertama kali masuk di Perlak, bagian utara Sumatra. Hal ini menyangkut strategisnya letak Perlak, yaitu di daerah Selat Malaka, jalur laut perdagangan internasional dari barat ke timur. Berikutnya ialah Kerajaan Samudra Pasai yang makin berkembang baik dibidang politik maupun perdagangan dan pelayaran. Hubungan dengan Malaka makin ramai dan timbul masyarakat muslim pada awal abad ke-15 sehingga muncul suatu pusat kerajaan Islam.

Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di

- 2 Komentar -

1. Angel marthalena

pada : 06 May 2013
Makasih buat infonya.:-)

2. gua

pada : 17 September 2013
waaaaaahhhhhhhhh

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :